Siapakah aku?
Aku adalah seorang manusia yang terlahir suci dari rahim seorang
Ibu yang mulia. Aku lahir dengan
tangisan dan disambut dengan senyuman. Pertama yang ku dengar adalah suara
adzan. Aku belom mengerti apa-apa. Berkelana dalam hidup, tanpa arah dan
tujuan. Tidak mengerti apa itu dosa.
Hanya menjalani hidup seperti manusia umumnya. Bermain, makan dan tidur. Tapi
kini aku sadar. Hidup bukanlah untuk makan. Melainkan, hidup adalah untuk
Ibadah.
Terkadang orang-orang lalai dengan jati diri mereka. Mereka
berkata “Just Do It”. Maukah Kalian menjalani kehidupan ini tanpa arah dan
tujuan? Yang nantinya berakhir dengan kesedihan. Aku pribadi tidak mau. Aku
ingin hidup ini bisa sejahtera, dan berakhir dengan senyuman indah. Aku ini seperti angin, kadang
menyejukkan, kadang menggemparkan tergantung seberapa besar tenaga yang
kupakai. Kadang aku terlihat, kadang aku tak terlihat. Tetapi kehadiranku selalu
dapat dirasakan.
Ketika “aku” dimengerti sebagai “subjek” memaksudkan bahwa aku
yang beraktivitas, sadar, berefleksi dan mencari kebenaran. Aku adalah itu yang
sadar akan hidupku. Hidupku adalah keseharianku, pengalamanku, suka-dukaku,
kebahagiaanku. “Perbuatan-ku itulah "aku". Cinta-ku dan segala
konsekuensi pengorbanan yang menyertainya, itulah "aku". Cita-cita,
pengharapan dan kecemasan-ku itulah "aku." Pengalaman keseharian-ku
itulah “aku". Jatuh-bangun perjuanganku itulah "aku". Kesadaran
akan “aku” bukanlah sekedar saya tahu siapa nama saya, saya bersekolah di mana,
siapa orang tua dan guru saya. Aku bukan hanya kekayaanku, uangku, dan kecantikanku.
Manusia adalah aku dalam keseluruhan
hidupnya yang utuh.
Betapa seringnya aku merasa bangga ketika melihat begitu banyaknya
orang yang membutuhkan ku. Saat kita menyaksikan orang-orang berkumpul di
sekeliling kita, betapa bangganya jiwa ini. Padahal kita sendiri menyadari
bahwa orang-orang itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan bagaimana diri
kita yang sesungguhnya. Dan yang membuat segalanya semakin parah kita pun
seperti selalu berusaha menampilkan berbagai bentuk dan rupa kepalsuan.
Kadang kita merasa menghadapi suatu masalah yang “sangat sulit”
atau “sangat berat”.Baik di sekolah, di keluarga, di lingkungan
masyarakat,maupun masalah pribadi diri sendiri. Bahkan kadang bisa terlintas di
benak kita, kenapa demikian berat beban cobaan yang kita terima ? Padahal jika kita
menerima anugrah yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakan nya,
kenapa saya yang menerima
Hanya Allah yang tahu siapa kita, untuk apa kita ada,
dan mau kemana kita. Karena Allah yang menciptakan kita. Dan kita sering tak
sadar dalam mencari konsep jati diri sesungguhnya sebagai manusia. Apa yang telah kita dapat, apa yang telah kita lakukan adalah untuk membantu sesama dan beribadah kepada Allah demi mencapi tujuan syurga. Dan bila kita mengenali dari apa kita di ciptakan maka kita akan menjadi manusia yang tak berjalan dengan kesombongan di muka bumi dan senantiasa kita menjadi hambanya yang benar-benar bersyukur karena telah menjadi salah satu makhluk yang sempurna di bandingkan makhluk Allah lainnya. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat.







0 komentar:
Posting Komentar